Tabur bunga di lokasi terjatuhnya pesawat Lion Air JT610, keluarga pun histeris 'dek ini mama'

Pesawat Lion Air JT60 rute Jakarta-Pangkal Pinang jatuh pada Senin (29/10/2018). Pesawat yang membawa 189 orang itu jatuh di perairan Tanjung Karawang pada Senin pagi. Sebelum ditemukan jatuh, pesawat sempat hilang kontak pada pukul 06.33 WIB. Pesawat yang diterbangkan oleh pilot Captain Bhavye Suneja tersebut sebelum hilang kontak sempat meminta return to base.

Proses pencarian korban dan badan pesawat pun sudah dilakukan selam 8 hari. Dari pencarian yang dilakukan oleh Tim SAR Gabungan, sebanyak 138 kantong jenazah korban berhasil dievakuasi bersama serpihan pesawat oleh Tim SAR Gabungan. Dan black box berupa Flight Data Recorder milik pesawat Lion Air JT610 sendiri sudah ditemukan. 

Proses pencarian sempat akan diberhentikan, namun, salah seorang keluarga korban mendesak agar tetap dilakukan proses pencarian. Salah seorang keluarga korban mengatakan bahwa dirinya takut pemakaman secara massal akan dilakukan tanpa informasi kepada keluarga.

"Kami berharap sekecil apapun harapannya, jasad korban bisa ditemukan dengan keadaan terbaik. Saya mohon proses identifikasi tetap dilanjutkan," ujar adik korban Ahmad Endang Rokhmana.

Menanggapi pernyataan itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memutuskan proses evakuasi korban diperpanjang selama tiga hari ke depan terhitung Senin (5/11/18). Budi juga memastikan, setelah perpanjangan selama tiga hari ke depan, proses evakuasi dan identifikasi korban akan terus dilakukan oleh pihak DVI Polri.

Sementara itu, Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri, Brigjen Arthur Tampi, juga meyakinkan keluarga korban bahwa "sampai kapanpun kita identifikasi sampai tuntas".

"Bahkan sampai operasi pencarian dihentikan pun, kita tetap melaksanakan proses identifikasi,. Artinya tidak pernah berhenti. Semua akan teridentifikasi. Kami telah menerima 138 kantung jenazah. Artinya tidak otomatis yang teridentifikasi 138 jenazah, bisa lebih bisa kurang. Tapi tidak akan ada yang kita kuburkan massal," paparnya.

Selain Kepala Basarnas, M Syaugi, menanggapi desakan itu dengan emosional. Ia mengatakan akan melakukan dengan sepenuhnya agar jasad para korban bisa ditemukan semuanya.

"Dengan apa yang kami miliki, kami yakin bisa mengevakuasi seluruh korban. Saya tidak menyerah. Mudah-mudahan dengan waktu yang ada, kami tetap all out. Saya akan terus mencari saudara-saudara saya ini," ujarnya sambil sesekali berhenti berucap sembari menyeka air mata.

Selasa (6/11/18), keluarga korban pun melaksanakan tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT610. Bukan hanya tabur bunga, tapi mereka juga melakukan doa bersama. Ketika sampai di lokasi jatuhnya pesawat JT610, keluarga korban pun terlihat tak mampu menahan emosinya.

Suasana haru dan isak tangis terlihat diantara keluarga korban. Bahkan seorang keluarga korban terlihat begitu histeris, ia pun terus menerus mengatakan "Dek, ini mama dek". Tubuhnya harus ditopang oleh beberapa anggota keluarga yang lain. Sementara itu, keluarga korban ini dibawa menggunakan KRI Banda Aceh dan KRI Banjarmasin.

Sebagian dari mereka pun tampak terlihat berpelukan untuk saling menguatkan.

"Ya Allah, Papa ada di sana, papa pulang pa, Ibu kangen," ucap salah seorang keluarga penumpang.

Sambil mengadahkan kedua tangan dan air mata yang terus menetes, doa pun dipanjatkan dan dipimpin oleh masing-masing pemuka agama. Suasana khusuk pun begitu terasa di atas KRI Banda Aceh saat doa mulai dipanjatkan.

"Ampunilah dosa keluarga kami ya Allah," ujar keluarga korban lirih.

Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi meyakinkan keluarga korban
Sementara itu doa bersama dipimpin oleh Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi.

Selain memimpin doa bersama, Syaugi juga menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh anggota keluarga terkait proses pencarian yang akan diperpanjang. Ia juga mencoba meyakinkan keluarga korban tentang proses pencarian yang masih akan dilakukan.

"Kami bukan main-main, bukan asal. Kami sehari 24 jam cari terus, kami nggak main-main. Perintah Presiden begitu, artinya memberikan perhatian serius," jelas Syaugi.

Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi memberikan kesaksian tentang kondisi lapangan
Syaugi juga memberikan kesaksiannya mengenai kondisi di lapangan dan seperti apa situasinya. Syaugi mengatakan bahwa dirinya selalu terenyuh setiap kali melihat bagaimana keadaan di lapangan yang sebenarnya. Namun, Syaugi mengatakan bahwa semua tim akan tetap berusaha.

"Saya setiap hari melihat situasi iu terharu, nggak kuat saya. Kalau Bapak lihat saya di lapangan tegas dan keras, terenyuh juga hati saya. Jadi saya akan tetap berusaha," ujarnya kepada seorang keluarga korban.

Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi meminta keluarga untuk ikhlas
Lebih lanjut Syaugi meminta agar keluarga korban bisa ikhlas menghadapi semua ini. Dan tetap mendoakan para korban. Syaugi juga mengatakan bahwa apa yang mereka hadapi saat ini merupakan pekerjaan yang sangat berat.

"Saya memohon doa keikhlasan, supaya kita juga ikhlas karena ini kerja berat buat kami. Mudah-mudahan tabah, nanti kita doakan insya Allah diterima," pintanya.

Mendengar penjelasan yang disampaikan oleh Syaugi, salah satu keluarga korban mengucapkan rasa terima kasihnya atas usaha dan kerja keras yang sudah dilakukan oleh Tim SAR Gabungan.

"Terima kasih, Pak kerja kerasnya," kata seorang anggota keluarga korban.

Sumber : planet merdeka

Loading...

Leave a Comment