Inilah Penyakit Yang Merusak Keharmonisan Keluarga

Penyakit terbesar penyebab ketidakharmonisan hubungan antar pasangan juga hubungan orang tua dan anak adalah karena "Ego yang terlalu besar pada masing-masing pihak", begitu temuan penelitian dari konselor anak dan keluarga.

Ego bahwa kita merasa yang paling benar, paling tahu, paling bisa dan paling berkuasa dan orang lainlah yang paling salah, paling tidak mengerti dsb.

Hingga pada akhirnya ego kita itu telah melukai hati kita sendiri juga hati pasangan dan anak-anak kita juga banyak orang lainnya yg berinteraksi dengan kita.

Alih-alih kita belajar mengasah dan mengikis ego kita, kebanyakan pasangan lebih memilih jalan pintas, marah, dan kembali lagi keluarga dan anak-anaklah yang kembali menjadi korbannya.

Alkisah ada pasangan yang baru saja bertengkar hebat akhirnya kelelahan, dan dalam kelelahan tanpa sengaja mereka melihat seekor tikus yang sedang asyik menggerogoti kabel di sudut ruangan rumah mereka.

Asyik ia menggerogoti kabel atau semacam benda-benda keras yang semestinya bukan makanan bagi perutnya. Ia mengerat benda-benda yang tidak kita harapkan dihancurkan oleh kebiasaan "buruk"nya itu.

Lalu tiba-tiba kedua pasangan ini bertanya dalam batin mereka masing-masing.

"Kenapa Tuhan mesti menciptakan tikus dengan kebiasaan merusak seperti itu ya?"

Seperti mendengar keluh kesah Manusia, tikus tersebut berhenti mengerat dan melirik ke arah dua orang manusia yang baru saja kelelahan karena baru saja bertengkar, moncongnya kini bergerak-gerak seakan membela diri.

"Hai manusia, aku mengerat kabel dan benda-benda keras ini bukan bermaksud merusak atau menunjukkan kebiasaan yang buruk di matamu. Jika aku tidak mengerat, maka gigi geligiku akan terus bertumbuh besar dan menyulitkan aku mengunyah makanan. Matilah aku karena gigiku sendiri. Aku mesti mengurangi panjangnya agar tidak melukai mulutku sendiri."

"Hai manusia bukankah kau pun mesti mengerat ego dalam pikiranmu sendiri agar tidak tumbuh terlalu besar dan akhirnya melukai dirimu juga pasanganmu?

"Sebab dengan ketajaman pikiranmu, kau bisa melukai dirimu sendiri atau orang lain bila ia kelebihan muatan ego, entah ego negatif atau pun positif. Karena kau sering merasa paling benar dengan apa yang kau ucapkan dan kau lakukan."

"Ayo seperti aku, belajarlah mengikis besarnya Ego yang kau miliki sebelum ego itu melukai dirimu, istrimu, anak-anakmu dan lebih banyak lagi orang."

Mulailah dengan cara berhentil merasa diri paling benar, dan belajarlah melihat kebenaran dari sudut pandang orang lain terutama pasanganmu juga anak-anakmu.

Seringkali, harga diri menjadi alasan timbulnya konflik dalam sebuah keluarga. Suami yang merasa tidak dihargai, atau istri yang merasa terinjak-injak. Padahal harga diri kita merasa jatuh atau terinjak-injak atau malah merasa tersanjung, yang menentukan adalah tergantung cara kita berpikir, dan ego kita memperkuatnya cara berpikir tersebut.

Dan sejatinya antara suami - istri sudah tak ada lagi yang namanya harga diri. Harga diri apa lagi? toh di hadapan suami/istri Anda, Anda telah lepaskan semua pakaian Anda.

 

Loading...

Leave a Comment


Loading...