Hati-Hati Konsumsi Antibiotik, Setiap 5 Menit 1 Anak Meninggal

Banyak orangtua demi menjaga kesehatan anaknya, memberikan antibiotik untuk dikonsumsi si buah hati. Misalnya untuk menjaga tubuh anak dari ancaman flu dan batuk. Antibiotik memang berfungsi menekan perkembangan bakteri jahat dalam tubuh. Namun, tahukah anda terlalu sering mengonsumsi antibiotik justru menyebabkan efek negatif bagi tubuh.

Ahli dari Health Protection Agency, Dame Sally Davies, menyarankan seseorang sebaiknya berhenti menggunakan antibiotik untuk mengatasi penyakit karena infeksi ringan. Misalnya untuk menyembuhkan batuk, sakit tenggorokan, sinusitis, hingga sakit telinga.

Untuk menghindari efek buruk dari antibiotik pada kesehatan anak-anak, orang tua harus mengikuti instruksi serta dosis. Berlebihan dan penyalahgunaan antibiotik bisa berbahaya. Tak sedikit orang yang sering kali mengabaikan aturan saat mengonsumsi antibiotik,  termasuk obat-obatan bebas yang dijual di Apotek tanpa resep dokter. Berikut beberapa kesalahan yang kerap dilakukan:

Antibiotik tak dikonsumsi sampai habis
Padahal, obat antibiotik adalah obat yang harus dikonsumsi sampai habis. Sering kali orang yang mengonsumsi obat antibiotik tidak mau menghabiskan. Saat merasa kon disi sudah lebih baik dan obat belum habis, ia biasanya menghentikan konsumsi obat. Faktanya, jika obat antibiotik tidak dikonsumsi sampai habis, maka penyakit akan kebal dan jika kambuh lagi akan sulit disembuhkan.

Mengabaikan waktu konsumsi obat
Semisal, dalam dosis ada aturan penggunaan 3 x sehari. Karena dalam sehari ada 24 jam, maka pasien harus meminum obat dengan dosis tersebut selama delapan jam sekali. Namun, pasien sering salah dalam estimasi waktu. Yang paling sering adalah antara waktu sarapan dan makan siang, di mana saat sarapan pukul 07.00 dan makan siang pukul 12.00. Pada saat itu, jangka wak tu baru lima jam namun pasien sudah mengonsumsi obat lagi. Pada jangka waktu yang lebih panjang, bisa jadi bakteri justru membentuk pertahanan diri sehingga penyakit menjadi lebih kebal dan semakin sulit disembuhkan.

Tak peduli dengan cara menyimpan obat
Banyak orang tak memerhatikan cara penyimpanan obat. Mereka menyimpan di tempat panas sehingga menyebabkan kandungan obat rusak. Ada pula penyimpanan obat berbentuk sirup. Sebaiknya, obat berbentuk sirup, setelah dibuka segel disimpan di dalam kulkas. Perlu diperhatikan pula adalah jangka waktu obat sirup setelah dibuka segelnya. Untuk obat sirup yang sudah dibuka segelnya dan tidak disimpan di dalam kulkas, hanya boleh dikonsumsi tujuh hari setelah obat dibuka. Sedangkan untuk obat sirup yang disimpan di dalam kulkas, obat sirup bisa bertahan selama satu bulan setelah segel dibuka. Selebihnya, obat jangan dikonsumsi lagi karena ditakutkan sudah tercemar bakteri dan kandungan obatnya telah rusak.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat bukan saja menimbulkan kekebalan bakteri, tetapi juga mengakibatkan tingginya jumlah kematian anak di Asia Tenggara. Banyak dokter memberikan resep antibiotik yang berbeda-beda untuk anak-anak dengan penyakit yang sama atau yang serupa. Bahaya antibiotik pada bayi bisa berat dari yang Anda pikirkan.

Menurut Direktur Regional kawasan Asia Tenggara, Dr Poonam Khetrapal Singh, diperkirakan setiap 5 menit satu orang anak di Asia Tenggara meninggal akibat resisten bakteri karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat.

"Antibiotik terkadang tidak diresepkan dengan optimal, baik karena mungkin tidak dibutuhkan maupun karena pemilihan jenis yang tidak tepat atau juga karena dosis yang tidak tepat," katanya pada acara Pekan Peduli Antibiotik.

Ahli mikrobiologi dari Health Protection Agency, Cliodna McNulty, juga menyarankan agar mengurangi penggunaan antibiotik. Sebab, pasien justru lebih banyak meninggal akibat prosedur medis yang rutin.

Berikut hal-hal yang patut Anda ketahui tentang dampak dari antibiotik pada anak:

1. Overdosis

Jika dokter anak Anda memberikan resep antibiotik, berhati-hatilah untuk tidak melebihi dosis yang dianjurkan oleh dia. Sebagian besar paket antibiotik memberikan pengukur. Hal ini lebih baik menggunakan pengukur daripada sendok. Overdosis akan menyebabkan masalah kesehatan yang serius.

2. Resistensi obat

Setiap antibiotik memiliki jangka waktu dalam beberapa hari. Dokter akan meresepkan kursus dan Anda harus mengikutinya benar. Jika itu kursus lima hari, memberikannya selama 5 hari akan membuat anak Anda lebih baik. Tentu saja itu tidak lengkap dan akan menyebabkan pembentukan bakteri resisten, sehingga kebutuhan untuk antibiotik lebih kuat dalam waktu berikutnya.

3. Kehilangan flora normal

Bahkan ketika antibiotik dirancang untuk bertindak melawan bakteri berbahaya, hal itu dapat mempengaruhi flora normal usus juga. Misalnya pemberian untuk paru-paru, ketika diminum antibiotik akan melewati usus. Akibatnya akan berefek pada flora dalam usus. Mungkin saja flora di usus ikut mati dan menjadi kebal. Flora ini akan tumbuh menjadi koloni dan tentu akan berefek pada tubuh si pemakai.

4. Diare

Diare adalah keluhan umum ketika anak-anak diberikan antibiotik. Kerusakan pada flora normal usus adalah alasan utama untuk ini. Mengambil suplemen vitamin bersama dengan antibiotik adalah salah satu pilihan untuk mencegah hal ini.

5. Alergi

Beberapa anak-anak mengembangkan reaksi alergi terhadap antibiotik seperti penisilin. Itu selalu disarankan untuk menginformasikan dokter Anda jika anak-anak Anda menunjukkan gejala alergi saat mengambil obat-obatan. Alergi terhadap satu antibiotik dapat memperpanjang untuk setiap yang lain dari kategori yang sama.

6. Peradangan usus

Bila lebih sering digunakan, antibiotik dapat menyebabkan peradangan usus. Ini akan menjadi salah satu alasan untuk sakit perut anak-anak Anda, yang mungkin tidak sengaja berhubungan dengan tanda-tanda penyakit yang Anda memberi antibiotik. Pastikan konsultasi dengan dokter jika anak Anda menunjukkan efek samping setelah mengkonsumsi antibiotik.

Meskipun penggunaan antibiotik dianjurkan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri, tapi tidak semua penyakit infeksi yang muncul mesti menggunakan antibiotik. Pengobatannya bisa dilakukan dengan dikompres, memakai obat yang diresepkan oleh dokter maupun memberikan banyak cairan. Hal tersebut justru bisa meminimalisir efek samping yang akan ditimbulkan ketika menggunakan obat antibiotik.

Namun, kalau Anda diharuskan untuk menggunakan antibiotik, maka sebaiknya didasarkan atau berkonsultasi terlebih dahulu kepada otoritas kesehatan terkait dengan efektifitas obat antibiotik, petunjuk pemakaian obat sampai pada daya tahan tubuh yang masih bisa mentolerir jika diberikan antibiotik.

Orang tua harus memiliki kesadaran tentang bahaya antibiotik. Efek antibiotik pada kesehatan anak-anak tergantung pada usia bayi Anda, dan berat badan. Ada saat dimana antibiotik harus diberikan atau tidak. Hal tersebut tergantung hasil laboratorium. Pemberian antibiotik terlalu sering akan membuat kuman kebal. Setiap antibiotik juga memiliki spesifikasi. Batasi penggunaan obat secara bijak dan membantu anak-anak menjalani hidup sehat.

 

Loading...

Leave a Comment


Loading...