Fatal! Ini Akibat Jika Anak Sering Dibentak

Permasalahan orangtua dalam menghadapi anak adalah kurangnya memahami sang anak, seringkali mereka tuangkan dengan cara membentaknya. Namun hati-hati para orangtua, cara seperti itu justru akan merusak karakter dan kepribadian sang anak, bahkan bisa sampai merusak otak anak. Suara keras dan membentak yang keluar dari orangtua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh.

Tahukah Bunda?

“Di dalam setiap kepala seorang anak terdapat lebih dari 10 trilyun sel otak yang siap tumbuh. Satu bentakan atau makian mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga. Satu cubitan atau pukulan mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga. Sebaliknya 1 pujian atau pelukan akan membangun kecerdasan lebih dari 10 trilyun sel otak saat itu juga.”

Psikolog klinis Baby Jim Aditya mengatakan, jika memang ingin menjadi orang tua tegas, tidak harus dengan marah-marah dan membentak. Tegas bisa dilakukan dengan mengingatkan tanpa harus marah.

Tegas adalah sebuah sikap. Sebagai contoh kita dikatakan tegas jika setiap kita katakan “YA” kita menghayatinya sebagai “YA” dan setiap kita berkata “TIDAK” kita konsekuen dengan kata “TIDAK” tersebut.

Berikut ini sebuah ilustrasi percakapan antara seorang Ibu dengan seorang anak berusia empat tahun.

“Bunda, bolehkah saya membeli es? Saya sangat haus,” kata sang anak.

“Tidak boleh sayang, dokter bilang, kamu amandelnya sakit, kalau mau sembuh, kamu tidak boleh minum es” sang Ibu menjelaskan.

“Tetapi saya haus…..,” rengek sang anak.

“Kan bisa minum air mineral, ayo Bunda belikan” ajak sang Ibu. Setelah minum air mineral, sang anak merengek lagi.

Masih haus Bunda, saya harus minum es biar nggak haus!

“Sayang, kamu pilih sakit lehernya karena minum es, atau lehernya nggak sakit tetapi kamu nahan tidak minum es?” tanya sang Ibu. Sang anak hanya terdiam dan menunduk, betapa ia sangat menginginkan es tersebut.

“Sayang, selain bisa bikin amandel kamu sakit, air yang dipakai untuk membuat es itu belum tentu air bersih, dari mana kamu tahu kalau air itu bersih, hayo. Nah, kalau nggak bersih, nanti ada kumannya, lalu masuk ke perut, kamu bisa sakit perut. Apakah kamu suka jika sesampai di rumah nanti leher dan perutmu menjadi sakit? Lalu kamu tidak bisa makan, minum, bahkan bicara, terus maunya ke wc terus karena diare. Masih ingat kan ketika dulu kamu diare? Sakit kan? Mau sakit diare lagi?” sang Bunda memberikan penjelasan lagi. Sang anak kemudian mengangkat mukanya dan memandang ke arah sang Bunda. Sang anak menggeleng dan segera mengajak Bundanya pulang.

Dari ilustrasi tersebut jelas bahwa sang Ibu memiliki sikap yang tegas karena dia tidak bisa dibujuk oleh rengekan sang anak, namun sang Ibu dapat dengan sabar memberikan penjelasan apa yang bisa terjadi jika sang Ibu meluluskan rengekan sang anak. Pada saat menjelaskan kepada sang anak, sang Ibu tidak membutuhkan tenaga atau kata-kata yang menyakitkan atau kasar, tetap dengan tenang dan dengan menggunakan bahasa yang halus, enak didengarkan. Dari sebab itulah kemudian sang anak menyadari bahwa sikap ‘tegas’ Ibunya adalah sebagai ungkapan rasa sayang yang ditujukan kepadanya, karena Ibunya tidak ingin dia menjadi sakit yang akan membuatnya menderita.

Lalu apa bedanya antara sikap tegas dan tindakan keras?

Kasus berikut ini mungkin bisa menjadi sebuah perbandingan untuk bisa memahami antara tindakan tegas dan keras.

Seorang Bapak membawa sebuah handphone di tangan kirinya, sedang di tangan kanannya sebuah tangan mungil menggelayut. Tangan mungil tersebut milik seorang anak kecil berusia lima tahun lengkap dengan seragam Taman Kanak-Kanaknya yang sangat menarik.

Sampai di sebuah rumah, sang Bapak memencet bel pintu yang segera dibukakan oleh pemiliknya, kemudian Bapak dan anak tersebut dipersilakan untuk duduk di ruang tamu. Sang Bapak memasukkan handphone di saku kemejanya, kemudian sang anak merengek ingin mengambil handphone milik sang Bapak yang segera dicegah oleh sang Bapak dengan mengibaskan tangan sang anak.

Untuk sesaat sang anak terdiam, namun, tidak lama kemudian sang anak merengek berniat meminjam hand phone sang Bapak. “Tidak boleh!” demikian bentak sang Bapak dengan suara yang sangat tidak bersahabat. Mendengar bentakan sang Bapak, gadis mungil itu menunduk, kemudian menangis tersedu-sedu. Tangisan gadis mungil itu belum berhenti sampai sang tuan rumah muncul kembali untuk menemui mereka. Beberapa kali sang Bapak membujuk agar si anak menghentikan tangisannya, namun tidak berhasil, bahkan, di puncak kesabarannya, sang Bapak mencubit lengan si anak yang justru menambah kerasnya tangisan.

“Mengapa cantik?” demikian tanya sang tuan rumah.

Mendengar pertanyaan dari sang tuan rumah, sang Bapak buru-buru mengeluarkan handphone-nya dari dalam saku kemudian memberikannya kepada si anak. Sesaat kemudian si anak terdiam dengan handphone di tangan.

Dari 2 (dua) contoh situasi di atas bisa diambil kesimpulan bahwa sikap tegas sangat berbeda dengan sikap keras. Tegas bisa dilakukan tanpa kekerasan, namun, sikap keras belum tentu tegas. Sikap keras sang Bapak tidak menunjukkan bahwa ia bisa bersikap tegas. Lihatlah, meski ia sudah membentak dan mencubit yang menandakan bahwa sang Bapak cukup keras dalam memperlakukan anak, ternyata dia tidak bisa bertahan dengan komitmennya untuk membiarkan sang anak tidak menyentuh handphone-nya.

Banyak orang berpendapat bahwa sikap tegas hanya bisa direalisasikan jika kita memasang wajah yang dingin, kata-kata yang kurang bersahabat hingga puncaknya melakukan tindakan kekerasan.

Sesungguhnya mendidik anak dengan cara membentak akan menimbulkan dampak buruk bagi anak, karena bisa membuat renggang ikatan batin dengan anak, selain itu bentakan tidak mengajarkan apa-apa untuk perkembangan si kecil. Saat usia anak masih di bawah 10 tahun, mereka tidak akan melawan atau balas membentak. Tetapi karena sikap pasif mereka itu, Anda jadi tidak bisa mengukur seberapa besar dampak psikologis yang ditimbulkan karena membentak. Anak cenderung untuk meniru perilaku orangtuanya. Seorang anak yang selalu dibentak, diomeli, atau dimarahi, akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dia sah-sah saja berkomunikasi dengan menggunakan bentakan, omelan, atau kemarahan.

 

Setiap perilaku anak pasti ada alasan yang melatarbelakangi. Berikut akibat jika anda sering membentak anak :

1. Membentak dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak
Beberapa pakar mengatakan anak yang sering dibentak oleh orang tua kemungkinan besar akan mengalami gangguan tumbuh kembang.

Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, mengatakan membentak dapat merusak anak. Kerusakan yang terjadi bisa bertahan hingga anak remaja bahkan dewasa.

2. Membentak berpengaruh buruk bagi mental anak
Anak akan menjadi minder dan takut mencoba hal baru. Jiwanya selalu merasa bersalah dan melakukan kesalahan sehingga hidupnya penuh keraguan dan tidak percaya diri.

3. Dapat terjadi kerusakan struktur otak pada anak
Menurut Martin Teicher, seorang profesor psikiatri di Harvard Medical School, ketika orang tua berteriak kepada anak-anaknya akan terjadi kerusakan struktur otak pada anak. Pada otak anak yang sering dibentak, saluran yang menghubungkan otak kanan dengan otak kiri menjadi lebih kecil. Hal ini mempengaruhi area otak yang berhubungan dengan emosi dan perhatian. Perubahan ini pada saat anak dewasa akan menyebabkan kecemasan, depresi, dan gangguan kepribadian, resiko bunuh diri dan aktivitas otak yang mirip dengan epilepsi.

4. Gangguan Pendengaran dan kurang bisa menjadi pendengar yang Baik
Agar bisa menjadi pendengar yang baik, anak tentu harus tumbuh di lingkungan yang membuatnya berpikir positif. Saat orang tua berbicara dengan nada tinggi terus menerus membuat mereka terganggu dan mengalami gangguan pendengaran.

Anak akan memilki sifat menantang, keras kepala dan suka membantah nasehat atau perintah orang tuanya.

5. Anak akan meniru kekerasan dalam kesehariannya
“Terbiasa dibentak, apalagi anak pada dasarnya tidak merasa mendapat kekerasan karena hal itu dilakukan orang terdekat seperti orang tua atau saudara, terbentuklah pemikiran bahwa membentak, memukul dan tindak kekerasan lain adalah bentuk kasih sayang,” terang  psikolog anak dan remaja Ratih Zulhaqqi, M.Psi, .

Akibatnya, anak akan meniru hal tersebut dalam kesehariannya. Sifat anak akan menjadi pemarah, sulit mengendalikan emosi, egois, dan suka berteriak karena dia dibentuk dengan kemarahan orangtuanya.

6. Jika orangtua kerap membentak anak, jantung anak akan kelelahan
Menurut dr Godeliva Maria Silvia Merry, M.Si, dokter sekaligus pengajar UKDW, Yogyakarta, denyut nadi seseorang akan berubah-ubah menyesuaikan jenis suara yang didengar.

Apa akibatnya jika orangtua kerap membentak anak dengan nada tinggi? Menurut dr Silvia, jika terus-terusan terpapar suara bernada kasar atau tinggi, jantung akan terbiasa berdetak dengan cepat. Alhasil jantung akan cepat ‘exhausted’ alias kelelahan. Efek yang sama juga terjadi pada mereka yang terus-terusan mendengarkan musik berirama cepat.

7. Membentak anak yang Beranjak remaja justru tak baik
Remaja berusia 13 tahun yang kerap dibentaki oleh orang tuanya ternyata memperlihatkan lebih banyak gejala depresi dibandingkan rekan-rekannya yang tidak diperlakukan sama. Hal ini dikemukakan sebuah studi baru yang dipublikasikan jurnal Child Development.

Alih-alih memperbaiki perilaku si remaja, diteriaki atau dibentak orang tua justru sebenarnya akan memperburuk perilakunya. Dia cenderung agresif meskipun hanya masalah sepele.

8.Memarahi anak di depan teman-temannya, tingkat kepercayaan anak menurun
Orang tua kerap dijadikan panutan bagi anak. Jika anak dimarahi didepan teman-temannya, hal ini tentu dapat mempertaruhkan harga diri mereka saat berada di tengah lingkungan pertemanan. anak akan menjadi tertutup, penyendiri dan suka menyimpan unek-uneknya. Dia tak akan berbagi cerita dengan orangtuanya karena dia merasa jika dia berbagi maka pasti akan  disalahkan. Dengan demikian komunikasi orangtua dan anak terhambat. Hal ini berbahaya jika anak menghadapi masalah besar dan menyimpannya sendiri, jiwanya akan tertekan

9. Anak jadi kurang inisiatif, cuek dan apatis
Anak yang sering dibentak dan dimarahi, ia jadi kurang inisiatif karena takut salah. Ia hanya melakukan apa-apa saja yang diminta oleh orang tuanya. Ia pun tidak peduli pada suatu hal, dan akan mengabaikan nasihat orangtuanya.

10. Anak akan sering berbohong
Alasannya karena jika jujur dia akan dibentak dan dimarahi oleh orangtuanya.

Masa pembentukan karakter anak adalah waktu yang tepat menanamkan pendidikan karakter yaitu di masa 0 sampai 6 tahun, masa ini sering disebut sebagai golden age atau masa usia emas anak. Pada masa tersebut otak menyerap dan menerima berbagai macam informasi serta masa perkembangan fisik, mental dan spiritual anak akan terbentuk pada masa itu.

Sekali lagi, kita perlu membedakan antara tindakan keras dan tindakan tegas. Tindakan tegas tetap harus kita miliki, sebagai kontrol dan rambu-rambu, karena bagaimanapun anak tidak dapat dibiarkan hidup tanpa aturan. Namun dalam pelaksanaannya, kita tidak perlu memasukkan unsur keras di dalamnya. Selain akan menambah jarak, juga akan menyebabkan anak menjadi trauma terhadap sikap kita tersebut.

Maka dari itu, kedekatan hubungan anak dan orangtua sangat berpengaruh bagi perkembangan otak dan psikologisnya, terutama di masa golden age. Cara-cara lembut dan pengertian akan lebih memberikan pengaruh positif terhadap anak.

Mari Bunda selalu memberi pujian tulus dan pelukan kasih sayang kepada anak-anak kita agar kelak menjadi anak yang cerdas berjiwa penuh kasih sayang.

Loading...

Leave a Comment


Loading...