Catat, Ini 5 Cara Efektif Mengajarkan Pendidikan Seks Usia Dini

Sejatinya, pendidikan seks untuk anak dan remaja diperlukan. Mengapa? Karena anak memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan, tidak saja dalam keluarga, tetapi juga di dalam lingkungan masyarakat. Kita tahu, anak merupakan kebanggaan keluarga. Anak juga memiliki peran khusus di masyarakat. Karena itu masa depan anak harus dipersiapkan.

Anak-anak dan remaja rentan terhadap informasi yang salah mengenai seks. Jika tidak mendapatkan pendidikan seks yang sepatutnya, mereka akan termakan mitos-mitos tentang seks yang tidak benar. Informasi tentang seks sebaiknya didapatkan langsung dari orang tua yang memiliki perhatian khusus terhadap anak-anak mereka.

Seks bebas ataupun anak yang kecanduan pornografi merupakan dampak buruk dari gagalnya pendidikan seks. Hasil survey Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks pranikah. Angka yang memprihatinkan di negeri yang cukup menjunjung tinggi nilai moral sehubungan seks.

Pendidikan seks pada anak bukan berarti orang tua mengajarkan bagaimana sexual intercourse yang baik, namun bagaimana anak-anak lebih mengetahui dan menghormati organ-organ reproduksinya sehingga tidak digunakan sembarangan. Nah, kapan sebaiknya pendidikan seks perlu dilakukan orang tua kepada anak?

Sebenarnya tidak ada pembatasan waktu minimal kapan pendidikan seks mulai diberikan kepada anak. Sebab setiap anak memiliki perkembangan psikologi yang berbeda-beda. Ketika anak mulai penasaran dan bertanya, orang tua bisa memulai memberikan pendidikan seks. Tetapi meskipun anak tidak tanya, jika ada gelagat yang mengarah ke 'ingin tahu' maka pendidikan seks bisa dimulai.


Berikut beberapa tahapan umur dan hal yang harus Anda pertimbangkan saat akan mengajarkan pendidikan seks usia dini dan masalah pelecehan seksual pada anak Anda:

>> Batita (1-3 tahun)

Pada usia ini orang tua dapat mulai memperkenalkan orga-organ seks miliknya secara singkat. Tidak perlu memberi penjelasan mendetil karena rentang waktu atensi batita amat pendek. Hal ini bisa dilakukan pada saat memandikan si kecil. Orang tua bisa memberitahu berbagai organ tubuh anak, seperti rambut, kepala, tangan, kaki, perut, dan jangan lupa penis dan vagina atau vulva.

>> Balita (3-5 tahun)

Pada usia ini orang tua menjelaskan tentang perbedaan alat kelamin dari lawan jenisnya, misalnya jika si kecil memiliki adik yang berlawanan jenis. Tandaskan juga bahwa alat kelamin tersebut tidak boleh dipertontonkan dengan sembarangan, juga tidak boleh membiarkan orang lain menyentuhnya tanpa diketahui orang tua. Ajarkan juga bagaimana cara melawan apabila ada orang yang memegang alat kelaminnya tanpa sepengetahuan orang tua. Cara yang paling sederhana tetapi efektiv adalah berteriak-teriak sekeras-kerasnya dan melaporkan kepada orang tua.

>> Anak 5-10 tahun

Anak-anak dalam rentang usia ini (Kadang, ada anak usia tiga dan 4 tahun) biasanya mulai aktif bertanya tentang seks dengan pertanyaan yang lebih spesifik. Misalnya darimana bayi berasal. Tentu saja, jawaban orang tua haruslah terus terang dan apa adanya. Dan akhiri dengan mengatakan bahwa hubungan seks hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah menikah (suami-istri).

>> Menjelang remaja

Orang tua harus menerangkan tentang haid, mimpi basah, dan juga perubahan-perubahan fisik, seperti perubahan payudara pada perempuan atau perubahan suara pada laki-laki.

>> Remaja

Dalam masa ini, secara intensif, orang tua harus menanamkan nilai-nilai moral terkait seks. Berikan penjelasan mengenai dampak buruk, baik fisik maupun psikis, yang mungkin dialaminya apabila terlibat dalam aktifitas seks sebelum waktunya.

Pendidikan sex untuk anak akan  efektif apabila dilakukan dengan cara berikut ini :

1. Buat diskusi sederhana

Untuk membahas pelecehan seksual dengan anak Anda, Anda tidak perlu masuk ke rincian tentang apa perkosaan.

Konselor anak Rajni Singh mengatakan, orang tua harus menjelaskan tentang penyalahgunaan dari sudut pandang anak sehingga mereka diberitahu dengan baik dan tidak takut tentang semuanya. Ajarkan mereka tentang sentuhan yang baik dan sentuhan buruk di awal kehidupan sehingga dia menyadari bahwa beberapa bagian tubuh tidak boleh disentuh oleh siapa pun.

2. Bersikap jujur dan terbuka

Orang tua harus menyampaikan informasi tentang seks secara benar dan apa adanya. Tidak boleh menjawab pertanyaan anak-anak dengan asal-asalan, tidak akurat apalagi sampai melenceng dari subjek pertanyaan. Masalah dengan kebanyakan orang tua adalah bahwa mereka menghindar dari berbicara tentang hal-hal seperti seks dan keintiman dengan anak-anak mereka. Ini penting untuk menjaga agar tidak membuatnya terdengar menakutkan untuk anak, atau membuatnya merasa seolah-olah dunia ini penuh dengan orang-orang jahat.

3. Bicara tentang aturan

Anak-anak dapat memahami aturan lebih cepat daripada orang dewasa. Mereka harus diberitahu bahwa bahkan ketika ia sedang pergi ke toilet di sekolah, tak seorang pun harus diizinkan untuk menyentuh  bagian-bagian pribadinya itu.

Anak-anak harus diberitahu bahwa selain orang tua, jika seseorang menyentuh mereka dan membuat mereka merasa tidak nyaman, mereka harus segera melaporkannya kepada orang tua mereka.

Secara praktis, pendidikan seks untuk anak dapat dimulai dengan mengajarkan tentang rasa malu, misalnya membiasakan anak berganti pakaian dalam ruangan tertutup (kamar tidur atau kamar mandi), membiasakan anak tidak lalu lalang tanpa mengenakan pakaian (telanjang), membiasakan anak membuang air kecing atau BAB di kamar mandi atau WC, membiasakan anak tidur sendiri atau dengan adik dengan jenis kelamin yang sama, dan membiasakan anak membersihkan alat kelamin sendiri sehingga anak tidak bergantung kepada orang lain. Hal ini juga dimaksudkan agar anak tidak sembarang memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyentuh alat genitalnya.

4. Bersikap tenang

Pendidikan seks kepada anak harus berlangsung dalam suasana santai, wajar, dan biasa-biasa dalam arti tidak membesar-besarkan masalah karena menganggap seks merupakan topik yang berat. Jangan biarkan anak melihat kekalutan kita ketika menjelaskan tentang seks. Orang tua hanya bisa menekan atau menghilangkan kekalutannya apabila telah mampu melepaskan diri dari semua persepsi negatif tentang seks.

Orang tua harus menjaga kontak mata yang tepat dan tidak merasa malu berbicara dengan mereka mengenai hal ini. Jangan pernah mengabaikan ketika seorang anak bertanya. Anak-anak sangat penasaran dengan alam dan semakin Anda menjawab, semakin bisa menjaga diri mereka.

5. Jaga Intonasi Suara

Nada di mana Anda berkomunikasi dengan anak sangat penting. Dalam hal ini, nada tidak boleh keras, hindari memarahi anak karena mengajukan pertanyaan tentang seks. Juga hindari perkataan yg menyangkut bahwa seks itu dosa, kotor, atau tak pantas untuk dibicarakan. Ini akan berpengaruh buruk kepada anak. Anak akan mengembangkan persepsi negatif tentang seks dan pada akhirnya memiliki pemahaman keliru.

Intonasi suara harus mencerminkan sensitivitas dan harus muncul untuk agar anak tahu jika orang tuanya berusaha melindunginya.

Menurut penelitian, pendidikan seks sejak dini akan menghindari kehamilan di luar pernikahan saat anak-anak bertumbuh menjadi remaja dan saat dewasa kelak. Karena rasa ingin tahu yang besar, jika anak tidak dibekali pendidikan seks, maka anak tersebut akan mencari jawaban dari orang lain, dan akan lebih menakutkan jika informasi seks didapatkan dari teman sebaya atau Internet yang informasinya bisa jadi salah. Karena itu, lindungi anak-anak sejak dini dengan membekali mereka pendidikan mengenai seks dengan cara yang tepat.

Dengan mengajarkan pendidikan seks pada anak, diharapkan dapat menghindarkan anak dari risiko negatif perilaku seksual maupun perilaku menyimpang. Dengan sendirinya anak diharapkan akan tahu mengenai seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, dan adat istiadat, serta dampak penyakit yang bisa ditimbulkan dari penyimpangan tersebut.

Loading...

Leave a Comment