Anak Suka Mengamuk? Bisa Jadi Ini Gejala Tantrum

Buah hati Anda kerap rewel bila keinginannya tak terpenuhi? Emosinya sangat cepat berubah dan sering mengamuk. Ia memukul, menangis sambil berguling di lantai, berteriak histeris, menggigit, bahkan melempar barang-barang ketika keinginannya tidak segera dipenuhi. Tenang Bunda, itu hanyalah kemarahan sesaat, kondisi tersebut dalam dunia psikologi disebut "tantrum". 

Perilaku ini sering membuat Bunda bingung? Tidak hanya Anda, anak pun bingung pada apa-apa yang terjadi pada dirinya. Kini perkembangan kemampuan emosinya telah memungkinkan ia untuk memahami bahwa ia adalah pribadi yang berbeda dari orangtuanya. Apa-apa yang disukainya, belum tentu disukai pula oleh orangtuanya. Sebaliknya, apa-apa yang tidak disukainya, belum tentu juga tidak disukai oleh orangtuanya.

Bunda tidak perlu kuatir, ini bukanlah gejala negatif tapi justru merupakan cara si kecil untuk menyampaikan keinginannya. Biasanya terjadi pada usia 1-4 tahun, yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasi mereka akibat tidak terpenuhinya keinginan mereka, atau hanya sekedar ingin untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya saja. Pada fase ini anak sedang berada pada proses mengenal dan belajar menghadapi kekecewaan.

Namun, tantrum bisa jadi berbahaya jika muncul dalam bentuk perilaku agresif baik menyakiti orang lain ataupun diri sendiri dimana tak jarang hal tersebut malah menimbulkan masalah baru akibat kerusakan yang dihasilkannya.

Ada banyak sebab indikator temper tantrum. Tentunya orangtua sebagai orang terdekat yang mengasuh anak sebagai salah satu faktor penyebab yang bisa menyebabkan anak seperti itu. Beberapa di antaranya adalah disiplin yang tidak konsisten, mengkritik terlalu banyak, terlalu protektif atau lalai, tidak memberikan cukup cinta dan perhatian kepada anak, masalah dengan pernikahan, gangguan bermain; baik untuk masalah emosional orang tua, bertemu dengan orang asing, persaingan dengan saudaranya, memiliki masalah dengan bicara, dan penyakit atau sakit. Penyebab umum lainnya termasuk karena rasa lapar atau lelah.

Rasa kecewa, marah, sedih dan sebagainya merupakan suatu rasa yang wajar dan natural. Namun kerapkali, tanpa disadari orang tua ‘menyumbat’ emosi yg anak rasakan. Misalnya saat anak menangis karena kecewa, orangtua dengan berbagai cara berusaha menghibur, mengalihkan perhatian, memarahi dsb demi menghentikan tangisan anak. Hal ini  sebenarnya membuat emosi anak tak tersalurkan dengan lepas. Jika hal ini berlangsung terus menerus, akibatnya timbullah yg disebut dengan tumpukan emosi. Tumpukan emosi inilah yg nantinya dapat meledak tak terkendali dan muncul sebagai temper tantrum.

Maka sebagai orang tua disarankan agar memberi kesempatan kepada anak untuk menghayati dan merasakan kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan mereka. Artinya, saat anak menangis kecewa atau merasa sedih kita hanya berperan untuk mendampingi, memeluk (jika dibutuhkan) dan menyatakan pengertian kita atas perasaan yang sedang anak rasakan tanpa memberikan intervensi apalagi berusaha menghentikan emosi tersebut. Kita juga dapat mengajarkan anak bentuk atau ekspresi emosi yang menurut kita (orang tua) dapat diterima, misalnya: boleh manangis, boleh berteriak dengan ditutup bantal, dll. Bentuk ini dapat kita tentukan sendiri sesuai dengan budaya dan kebiasaan masing-masing.

Banyak orangtua mengeluh dan menangani anak dengan cara yang sama saja. Misalnya anak menangis, maka orangtua dengan mudahnya memberi apa saja yang diminta anak, atau bisa juga dengan ancaman atau ditakut-takuti karena orangtua merasa pendekatan tersebut sangat efektif. Ya benar sekali memang efektif, tetapi efektif hanya untuk jangka pendek. Biasanya kebiasaan itu akan berulang jika sumber utamanya belum ditangani dengan baik.

Nah, Mulailah sikapi dengan bijak tanpa harus menuruti segala keinginannya. Dikutip dari Children's Hospital of Philadelphia, berikut ini adalah petunjuk yang paling tepat dan bermanfaat tentang cara mengatasi temper tantrum:

  • Tetap tenang.

  • Terus lakukan kegiatan anda. Abaikan anak sampai dia lebih tenang dan tunjukkan aturan yang sudah disepakati bersama.

  • Jangan memukul anak Anda. Lebih baik mendekapnya dalam pelukan sampai ia tenang.

  • Cobalah untuk menemukan alasan kemarahan anak Anda.

  • Jangan menyerah pada kemarahan anak. Ketika orang tua menyerah, anak-anak belajar untuk menggunakan perilaku yang sama ketika mereka menginginkan sesuatu.

  • Jangan membujuk anak Anda dengan imbalan yang lain untuk menghentikan kemarahannya. Anak akan belajar untuk mendapatkan imbalan.

  • Arahkan perhatian anak pada sesuatu yang lain.

  • Singkirkan benda-benda yang berpotensi berbahaya dari anak Anda.

  • Berikan pujian dan penghargaan perilaku bila tantrum telah selesai.

  • Tetap jaga komunikasi terbuka dengan anak Anda.


Kuncinya adalah Anda harus tegas dan konsisten, jelaskan aturan dan perlakuan yang Anda harapkan dari anak. Temper tantrum memang bukanlah suatu penyakit berbahaya, namun jika orang tua membiarkannya berlarut-larut dan tidak pernah memberikan solusi yang benar kepada anak, maka perkembangan emosional anak dapat terganggu.

Bagaimanapun, kemarahan adalah ekspresi frustasi yang sebaiknya segera ditangani agar tidak berlarut-larut.  Disinilah peran Bunda dibutuhkan untuk membantu mengenali penyebab amarah anak serta mengajarkan si kecil mengelola emosinya sejak dini.

 

Loading...

Leave a Comment


Loading...